Analisis Faktor

Analisis faktor merupakan salah satu metode analisis untuk mengolah data penelitian dengan mengidentifikasi variabel dasar atau faktor yang menerangkan pola hubungan dalam suatu himpunan variabel observasi. Analisis faktor sering digunakan pada reduksi data untuk mengidentifikasi suatu jumlah kecil faktor yang menerangkan beberapa faktor yang mempunyai kemiripan karakter. Tujuan reduksi data untuk mengeliminasi variabel independen yang saling berkorelasi sehingga akan diperoleh jumlah variabel yang lebih sedikit dan tidak berkorelasi. Variabel-variabel yang saling berkorelasi mungkin mempunyai kesamaan atau kemiripan karakter dengan variabel lainnya sehingga dijadikan satu faktor.

Analisis Faktor (factor analysis) termasuk pada Independence Technique, yang berarti tidak ada variabel dependen maupun independen. Proses analisis faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling independen satu dengan yang lain, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal (Santoso, 2006).

Sebagai contoh, misalnya ada 10 variabel yang bersifat independen satu dengan yang lain. Dengan analisis faktor, kesepuluh variabel tersebut mungkin bisa diringkas hanya menjadi 3 kumpulan variabel baru (new set of variables). Kumpulan variabel tersebut disebut faktor, di mana faktor tetap mencerminkan variabel-variabel aslinya.

Tujuan analisis faktor menurut Santoso (2006) adalah:

1. Data summarization, yakni mengindentifikasikan adanya hubungan antar variabel dengan melakukan uji korelasi. Jika korelasi dilakukan antar variabel (dalam pengertian SPPS adalah kolom), analisis tersebut dinamakan R Factor Analysis.

2. Data reduction. Setelah melakukan korelasi, dilakukan proses membuat variabel set baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.

Oleh karena prinsip utama analisis faktor adalah korelasi, maka asumsi-asumsi analisis faktor akan terkait dengan metode statistik korelasi (Santoso, 2006:13) antara lain:

1.      Besar korelasi atau korelasi antar independen variabel harus cukup kuat, misalnya di atas 0,5.

2.      Besar korelasi parsial, korelasi antar dua variabel dengan menganggap tetap variabel yang lain, justru harus kecil. Pada SPSS, deteksi terhadap korelasi parsial diberikan lewat pilihan Anti-Image Correlation.

3.      Pengujian seluruh matrik korelasi (korelasi antar variabel) yang diukur dengan besaran Bartlett Test of Sphericity atau Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara paling sedikit beberapa variabel.

Regresi Linear Berganda

Sebelum melakukan pengolahan data penelitian, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu metode analisis data yang sesuai dengan topik penelitian.

Berikut ini adalah metode analisis data untuk penelitian kausal.

a.   Persamaan Regresi Linear Berganda

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

Dimana :

Y  =  Variabel dependen yaitu keputusan pembelian.

a   =  Harga Y bila X = 0 (konstan).

b1 =  Koefisien regresi mengukur besarnya pengaruh X1 terhadap Y, jika X1 naik 1  unit.

b2 =  Koefisien regresi mengukur besarnya pengaruh X2 terhadap Y, jika X2 naik 1 unit.

b3 =  Koefisien regresi mengukur besarnya pengaruh X3 terhadap Y, jika X3 naik 1 unit.

X1 = Variabel independen pertama.

X2 = Variabel independen kedua.

X3 = Variabel independen ketiga.

b. Pengujian t hitung

Pengujian hipotesis dilakukan dengan rumus t hitung uji koefisien regresi menurut Supranto (2009):

t0  =  b – ß 0

Sb

Kalau ß 0 = 0 maka t0  =   b     , t0 = nilai observasi

Sb

t0 mengikuti fungsi t dengan derajat kebebasan (n-2)

Penolakan atau penerimaan Ho dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel. Jika t hitung > dari nilai t tabel, maka Ho ditolak atau terima Ha. Sebaliknya jika t hitung < dari nilai t tabel maka terima Ho dan tolak Ha.

Konsep dan Fungsi Manajemen

A.     Konsep Manajemen

1.      Definisi Manajemen

            Manajemen adalah seni menangani segala hal melalui orang lain. Para manajer memberikan arah pada organisasi mereka, memimpin dan memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran.

Aktivitas-aktivitas ini berlaku tidak saja bagi eksekutif puncak, tapi juga bagi seorang pemimpin kru kebersihan, penyelia atau seorang direktur pemasaran. Lebih lanjut, manajemen sering dianggap universal karena menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran dan memperoleh prestasi tinggi dalam semua tipe organisasi, yang mencari laba maupun nirlaba.

Definisi manajemen menurut Daft (2002 : 8) yaitu ”Manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien menurut perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian sumber daya organisasi.

Ada dua ide penting dalam definisi tersebut yaitu (1) empat fungsi manajemen yaitu perencanaan, perorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian serta (2) pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien.

2.     Empat Fungsi Manajemen

a.      Perencanaan (Planning)

      Perencanaan mendefinisikan di mana organisasi ingin berada di masa depan dan bagaimana mencapainya. Perencanaan berarti penentuan sasaran sebagai pedoman kinerja organisasi di masa depan dan penetapan tugas-tugas serta alokasi sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi.

b.      Pengorganisasian (Organizing)

      Pengorganisasian biasanya mengikuti perencanaan dan mencerminkan bagaimana orgnaisasi mencoba untuk menyelesaikan rencana itu.  Pengorganisasian (Organizing) melibatkan penetapan tugas, pengelompokkan tugas-tugas ke dalam departemen, dan alokasi bermacam-macam sumber daya ke dalam berbagai departemen.

c.       Kepemimpinan (Leading)

            Memberikan kepemipinan menjadi fungsi manajemen yang semakin penting. Kepemimpinan adalah penggunaan pengaruh untuk memotivasi karyawan agar mencapai sasaran organisasi. Memimpin berarti menciptakan suatu budaya dan nilai bersama, mengkomunikasikan sasaran kepada karyawan melalui organisasi, dan memberikan inspirasi agar karyawan berprestasi sebaik-baiknya. Memimpin termasuk memotivasi seluruh departemen dan divisi, dan juga orang-orang yang bekerja langsung dengan manajer.

d.      Pengendalian (Controlling)

            Pengendalian adalah fungsi keempat dalam proses manajemen. Pengendalian artinya memantau aktivitas karyawan, menjaga organisasi agar tetap berjalan ke arah pencapaian sasaran-sasarannya, dan membuat koreksi jika diperlukan. Para manajer harus memastikan bahwa organisasi bergerak menuju tujuannya.

Kinerja Karyawan

Pengertian Kinerja Karyawan

Definisi kinerja adalah “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya” (Mangkunegara, 2001:67). Oleh karena itu, kinerja diartikan sebagai suatu hasil dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah efektivitas dan efisiensi. Menurut Prawirosentono (2000: 27) bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat – akibat yang tidak dicari kegiatan mempunyai nilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan ketidakpuasan walaupun efektif dinamakan tidak efisien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau remeh maka kegiatan tersebut efisien. Pengertian pengukuran kinerja adalah “suatu proses mengkuantifikasikan secara akurat dan valid tingkat efisiensi dan efektivitas suatu kegiatan yang telah terealisasi dan membandingkannya dengan tingkat prestasi yang direncanakan.” (Susilo 2002:28).

Untuk itu seorang atasan perlu mempunyai ukuran kinerja para karyawan supaya tidak timbul suatu masalah. Informasi tentang kinerja karyawan juga diperlukan pula bila suatu saat atasan ingin mengubah sistem yang ada. Kita sering terjebak untuk menilai seseorang berkinerja buruk, padahal sistem atau peralatan yang digunakan yang tidak memenuhi syarat. Berikut cara sederhana untuk menilai kinerja perorangan menurut Prawirosentono (2000: 193) yaitu kinerja = kemampuan (kapasitas) + motivasi.

Pemilihan Jenis Data


Jenis data yang lazim digunakan dalam penelitian manajamen antara lain:

1.         Data Primer

Definisi data primer adalah data asli yang dikumpulkan sendiri oleh periset untuk menjawab masalah risetnya secara khusus (Istijanto 2005:32). Dalam penelitian ini, data primer diperoleh langsung dari sumbernya dan merupakan data kuantitatif yang bersifat terstruktur. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan alat yang terstruktur, yaitu alternatif jawaban terhadap pernyataan yang disampaikan kepada responden dalam kuesioner. Selanjutnya, penulis mengubah data dari jawaban para responden menjadi satuan kuantitatif, misalnya jawaban “Sangat Setuju” = 5, “Setuju” = 4, “Ragu-Ragu” = 3, “Tidak Setuju” = 2, dan “Sangat Tidak Setuju” = 1. Data ini bisa dikaitkan dengan angka, oleh karena itu dinamakan data kuantitatif (Istijanto 2005:34).

2.         Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan pihak lain. Periset hanya memanfaatkan data yang ada untuk penelitiannya (Istijanto 2005:27). Data sekunder yang digunakan dalama penelitian ini adalah data internal perusahaan antara lain yaitu nama dan jumlah karyawan yang dijadikan responden serta profil, misi dan struktur organisasi perusahaan.

Kepuasan Pelanggan

Satisfaction adalah kata dari bahasa latin yaitu statis yang berarti enough atau cukup dan facere yang berarti to do atau melakukan. Jadi, produk atau jasa yang bisa memuaskan adalah produk dan jasa yang sanggup memberikan sesuatu yang dicari oleh konsumen sampai pada tingkatan cukup. Menurut Handi Irawan dalam bukunya ”10 Prinsip Kepuasan Pelanggan” (2002:2) kepuasan pelanggan adalah hasil akumulasi dari konsumen atau pelanggan dalam menggunakan produk atau jasa.

Menurut Handi Irawan dalam bukunya “10 Prinsip Kepuasan Pelanggan” (2002:37-40) ada lima faktor yang mendorong kepuasan pelanggan antara lain:

  1. Kualitas produk

Pelanggan puas kalau setelah membeli dan menggunakan produk tersebut, ternyata kualitas produknya baik. Kualitas produk ini adalah dimensi yang global dan paling tidak ada 6 elemen dari kualitas produk, yaitu: performance, durability, feature, consistency, dan design.

  1. Harga

Untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka mendapatkan value of money yang timggi. Komponen harga ini relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga. Untuk industri ritel, komponen harga ini sungguh sangat penting dan kontribusinya terhadap kepuasan relatif besar.

  1. Service Quality

Service quality sangat bergantung pada tiga hal, yaitu sistem, teknologi, dan manusia. Pembentukan sikap dan perilaku yang seiring dengan keinginan perusahaan menciptakan, bukanlah pekerjaan mudah. Sama seperti kualitas produk, maka kualitas pelayanan juga merupakan driver yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep service quality yang popular adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini, service quality diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability, responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible.

  1. Emotional Factor

Rasa bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok orang penting dan sebagainya adalah contoh-contoh emotional value yang mendasari kepuasan pelanggan.

  1. Kemudahan

Kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa tersebut. Pelanggan akan semakin puas aapabila relatif mudah, nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.

Bauran Pemasaran


Tugas pemasar adalah merencanakan aktivitas-aktivitas pemasaran dan membentuk program pemasaran yang terintegrasi penuh untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan menghantarkan nilai kepada pelanggan. Kotler dan Keller (2009:24) mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas ini sebagai sarana bauran pemasaran dari empat jenis yang luas, yang disebut empat P dari pemasaran: produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion). Empat P melambangkan pandangan penjual terhadap perangkat pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang pembeli, setiap perangkat pemasaran dirancang untuk memberikan manfaat bagi pelanggan.

Sedangkan untuk perusahaan jasa, empat P tersebut masih dirasa kurang mencukupi. Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam buku “Manajemen Pemasaran Jasa” (2006:69-76) mengemukakan penambahan tiga unsur lagi yaitu People, Process, dan Customer service. Ketiga hal ini terkait dengan sifat jasa dimana produksi/operasi hingga konsumsi merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dan mengikutsertakan konsumen dan pemberi jasa secara langsung, dengan kata lain, terjadi interaksi langsung antar keduanya (meski tidak untuk semua jenis jasa). Sebagai suatu bauran elemen-elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain sehingga bila salah satu tidak tepat pengorganisasiannya akan mempengaruhi strategi pemasaran secara keseluruhan. Jadi dengan  demikian elemen marketing mix jasa terdiri dari tujuh hal, antara lain:

a.      Product

Produk adalah merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai manfaat kapada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli benefit atau value dari produk tersebut yang disebut “the offer”. Terutama pada produk jasa yang kita kenal tidak menimbulkan beralih kepemilikan dari penyedia jasa kepada konsumen.

b.      Price

Strategi penentuan harga sangat signifikan dalam pemberian value kepada konsumen dan mempengaruhi image produk, serta keputusan konsumen untuk membeli. Pricing juga berhubungan dengan pendapatan dan turut mempengaruhi supply atau marketing channels. Akan tetapi, yang paling penting adalah keputusan dalam pricing harus konsisten dan strategi pemasaran seacara keseluruhan.

c.       Place

Place dalam jasa merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan atas saluran distribusi, dalam hal ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian jasa kepada konsumen dan dimana lokasi yang strategis.lokasi  berarti berhubungan dengan dimana perusahaan harus bermarkas dan melakukan operasi.

d.      Promotion

Yang perlu diperhatikan dalam promosi adalah pemilihan bauran promosi (promotion mix). Yang  trerdiri dari:

1.      Advertising

2.      Personal selling

3.      Sales promotion

4.      Publict relation

5.      Word of mouth

6.      Direct mail


e.       People

Dalam hubungannya dengan pemasaran jasa, maka people yang berfungsi sebagai service provider sangat mempengaruhi kualitas jasa yang diberikan. Keputusan dalam people ini berarti sehubungan dengan seleksi, training, motivasi, dan manajemen sumber daya manusia.

Untuk mencapai kualitas yang terbaik maka pegawai harus dilatih untuk menyadari pentingnya pekerjaan mereka, yaitu memberikan konsumen kepuasan dalam memenuhi kebutuhannya. Pentingnya people dalam pemasaran jasa berkaitan dengan internal marketing. Internal marketing adalah interaksi atau hubungan antara setiap karyawan dan departemen dalam suatu perusahaan yang dalam hal ini dapat diposisikan sebagai internal customer dan internal supplier. Tujuan dari adanya hubungan tersebut adalah mendorong people dalam kinerja memberikan kepuasan kepada konsumen.

f.        Process

Proses merupakan gabungan semua aktivitas, umumnya terdiri dari produsen, jadwal, pekerjaan, mekanisme, aktivitas dan hal-hal rutin, di mana jasa dihasilkan dan disampaikan kepada konsumen.

g.      Customer Service

Customer service pada pemasaran jasa lebih dilihat sebagai outcome dari kegiatan distribusi dan logistik, di mana pelayanan diberikan kepada konsumen untuk mencapai kepuasan. Customer service meliputi aktivitas untuk memberikan kegunaan waktu dan tempat termasuk pelayanan pra-transaksi, saat transaksi dan paska transaksi. Kegiatan sebelum taransaksi akan turut mempengaruhi kegiatan transaksi dan setelah transaksi, oleh karena itu, kegiatan pendahuluannya harus sebaik mungkin sehingga konsumen memberikan respon yang positif dan menunjukkan loyalitas yang tinggi.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.